: Millie, Ch.A
.
di situ, di ranting-ranting waktu
sudah kita gantungkan mimpi yang nyaris sia-sia
apa boleh buat,
cuma itu yang kita punya
dan kepalan tinju
dan secuil kecil hati
.
hidup cuma menunda kekalahan
, kata laki-laki bermata merah,
ah, kalau hanya menunda saja
tentu tak seberat ini beban kita
dan pundak makin lama terasa makin sempit
sementara jalan makin curam tanjakannya
.
di situ, di ranting-ranting waktu
sempat juga kita titipkan beberapa lembar sajak
duh, sajak-sajak
berlembar-lembar impian berlembar-lembar juga luka kita
seperti lukisan di dinding-dinding kenangan
meski buram dimakan usia
getirnya masih terasa sama
.
…. dan aku lemah terjerat jejaring masa….
.
ah, kau.
selemah itulah aku
. serapuh itulah.
pun dengan segala mimpi
dan kepalan tinju
dan secuil kecil hati
tapi jalan menanjak berliku di depan itu
mesti ditempuhi juga
mesti ditempuhi juga
.
hidup cuma menunda kekalahan
, kata laki-laki bermata merah,
sampai kapan?
kekalahan yang mana?
sampai kematian mencium kedua mata?
ah, tapi mati bukan kalah
bila saja aku tidak begini lemah, tentulah aku jemput dia
, kematian kesayangan,
betapa menyenangkan
.
…. dan aku lemah terjerat jejaring masa….
.
begitulah kau
begitupun aku
begitulah hidup, katanya
seandainya aku, ah, seandainya kita
seandainya sajak tidak melulu luka
.
tapi apa boleh buat,
cuma itu yang kita punya
impian yang nyaris sia-sia
yang kita gantungkan di situ, di ranting-ranting waktu
cuma itu yang kita punya
dan kepalan tinju
dan secuil kecil hati
.
.