Archive for February, 2007

DI SEPI OMBAK AKULAH TARIAN BUIH

Sunday, February 25th, 2007

di sepi ombak akulah tarian buih

dan luka-luka angin adalah lagu untuk karang

apakah tawa itu kalau kau tahu

riuh impian sunyi itu sudah disimpankah pada tahun-tahun

.

dan dosa-dosa ternyata masih juga menggelayut

          pada tarian kita

. 

kalau inilah pembebasan, maafkan aku

sepenuhnya aku mencintaimu

.

maafkan, tapi aku mencintaimu

. 

          …….selamat tidur."

.

.

DI RANTING-RANTING WAKTU

Sunday, February 25th, 2007

                                                 : Millie, Ch.A

.

di situ, di ranting-ranting waktu

sudah kita gantungkan mimpi yang nyaris sia-sia

apa boleh buat,

cuma itu yang kita punya

dan kepalan tinju

dan secuil kecil hati

.

hidup cuma menunda kekalahan

, kata laki-laki bermata merah,

ah, kalau hanya menunda saja

tentu tak seberat ini beban kita

dan pundak makin lama terasa makin sempit

sementara jalan makin curam tanjakannya

.

di situ, di ranting-ranting waktu

sempat juga kita titipkan beberapa lembar sajak

duh, sajak-sajak

berlembar-lembar impian berlembar-lembar juga luka kita

seperti lukisan di dinding-dinding kenangan

meski buram dimakan usia

getirnya masih terasa sama

.

…. dan aku lemah terjerat jejaring masa….

.

ah, kau.

selemah itulah aku

. serapuh itulah.

pun dengan segala mimpi

dan kepalan tinju

dan secuil kecil hati

tapi jalan menanjak berliku di depan itu

mesti ditempuhi juga

mesti ditempuhi juga

.

hidup cuma menunda kekalahan

, kata laki-laki bermata merah,

sampai kapan?

kekalahan yang mana?

sampai kematian mencium kedua mata?

ah, tapi mati bukan kalah

bila saja aku tidak begini lemah, tentulah aku jemput dia

, kematian kesayangan,

betapa menyenangkan

.

…. dan aku lemah terjerat jejaring masa….

.

begitulah kau

begitupun aku

begitulah hidup, katanya

seandainya aku, ah, seandainya kita

seandainya sajak tidak melulu luka

.

tapi apa boleh buat,

cuma itu yang kita punya

impian yang nyaris sia-sia

yang kita gantungkan di situ, di ranting-ranting waktu

cuma itu yang kita punya

dan kepalan tinju

dan secuil kecil hati

.

.

BULAN MERAH ANGGUR

Monday, February 12th, 2007

bulan merah anggur

di langit sebelah timur

angin merayap menelusup diam-diam

kita begitu rapat, hati entah ada di mana

.

pernah kita punya rumah untuk pulang

, sebuah cita-cita,

ketika darah begitu deras arusnya

.

setiap aku dengar lagu itu lagi

sesuatu pecah di dalam ku

.

sayangnya, kita tidak bisa memutar mundur waktu

.

pernah kita punya rumah untuk pulang

, sebuah cita-cita,

ketika darah begitu deras arusnya

.

sayangnya, kita tidak bisa memutar mundur waktu

.

.

with full respect to Tom Waits

MENDUNG ITU MENGHADIAHI AKU SUNYI

Thursday, February 8th, 2007

.

mendung itu menghadiahi aku sunyi

sunyi yang begitu liar

mendekap, meremas, memagut

habis aku di dalamnya

.

mendung itu menghadiahi aku sunyi

sunyi yang begitu purba

sepurba mimpi-mimpi buruk

sepurba luka

.

mendung itu menghadiahi aku sunyi

sunyi yang begitu sejuk

penuh kenangan dan hayalan tanpa batas

:seorang bocah tertawa berlarian di antara gerimis

.

mendung itu menghadiahi aku sunyi

sunyi yang begitu merdu

meningkahi lamunan

dan rindu

rindu yang sama sunyinya

pada rumah, pada ibu

.

mendung itu menghadiahi aku sunyi

sunyi yang begitu sunyi

.

.

9/2/2007 sunrise

.

.

Sang Ular

Tuesday, February 6th, 2007

sang ular yang berbisik pada Hawa itu adalah

kehendak Semesta

, pengetahuan,

.

lalu mereka keluar, ke arah timur

.setelah mengetahui.

apakah hidup apakah manusia apakah semesta

apakah waktu apakah cahaya apakah sang mata

apakah nama

apakah apa

.

lalu mereka keluar, ke arah timur

setelah Hawa mengetahui,

Adam menjalankan

ke timur mereka, ke negeri asalmula

.

sang ular yang berbisik pada Hawa itu adalah

kehendak Semesta

, pengetahuan,

.

begitulah penyatuan yang dijanjikan

.

sang ular masih bersama mereka

membisikkan yang belum mereka ketahui

membisikkan yang harus mereka ketahui

maka dengarkanlah dia

, kehendak Semesta,

.

begitulah yang dijadikan

.

.

6/2/2007

.

.

Pembeda, Beda dan Perbedaan: Kehendak Semesta

Thursday, February 1st, 2007

‘Seekor burung boleh saja jatuh cinta pada seekor ikan, tapi dimana mereka akan membuat sarang?’ Quote yang sama persis ada (setidaknya) dalam dua film, Fiddler on The Roof dan Ever After ( a Cinderella Story), entah mengutip dari mana, entah siapa yang pertama kali menyebut pertanyaan itu tak jadi soal. ‘Seekor burung boleh saja jatuh cinta pada seekor ikan, tapi dimana mereka akan membuat sarang?’, mungkin sesederhana itu pertanyaannya dan sesederhana itu permasalahannya, seperti sederhananya kehendak Adam (atau Hawa) atas diri dan pemikirannya yang ditulis orang-orang terdahulu dalam buku-buku yang diturunkan agama-agama semit, yang membuat mereka berdua keluar dari Eden lalu pergi ke arah timur. Menyemai sebuah cerita panjang berliku penuh kebohongan bahkan tentang dirinya sendiri.

.

Perbedaan, hal yang membuat hidup di atas bumi menjadi berwarna. Kalau gelap tidak bisa dibedakan dengan terang, kalau merah tidak dapat dibedakan dengan biru, atau rasa manis apel tidak berbeda dengan mangga, betapa akan tidak hidupnya hidup. Perbedaan yang membuat segalanya mungkin diidentifikasi, dikenali, dikelompokkan, perbedaan dan pembeda memungkinkan kita mencari kesamaan-kesamaan lalu mulai membeda-bedakan, perbedaan dan pembeda menjadi penanda. Hidup menjadi hidup karena beda, perbedaan dan pembeda. 

.

Babel runtuh karena perbedaan, beda dan pembeda. Lalu terpecah-pecahlah kita menyebar atas kehendak sang semesta, sebagian memilih untuk meneruskan kehendak Adam atas Hawa atau Hawa atas Adam, memberhalai dongeng-dongeng kuno tentang negeri tanpa waktu tanpa batas wilayah, menyembah pendar-pendar kecil semesta, sebagian lagi bersembunyi dalam kegelapan agar dapat melihat cahaya terang sang semesta dan membangun kembali Babel agung dengan mengikat segala beda, pembeda dan perbedaan seperti yang tersembunyi dan terungkap lewat tirai agung matematika semesta.

.

Burung dengan pembeda yang dimilikinya tidak akan bersarang bersama ikan. Sekuat apapun keduanya berusaha, sang semesta tidak mengizinkan hal seperti itu. Maka burung dengan bangsanya tetap mengangkasa, ikan dan bangsanya selamanya menyelam dan mengarungi air, entah bagi mereka yang mengimani The Origin Of Species, ikan suatu saat akan berjalan di muka bumi lalu menyandang nama Adam.

.

Lalu siapakah yang akan berjalan tegak di muka bumi, melayang terbang di angkasa dan mengarungi air? Siapakah yang mengemban tugas mulia dari sang semesta untuk mengenali pembeda, beda dan perbedaan yang dia ciptakan, lalu mengembalikan bumi menjadi suatu ikatan mulia dari segala pembeda, beda dan perbedaan di bawah satu menara agung yang diterangi cahaya semesta? Kita! Penguasa-penguasa diri sendiri yang mampu menerjemahkan sang semesta dan cahayanya yang mulia.

.

Dengan pembeda, beda dan perbedaan yang kita miliki, kita mengenali misteri sang semesta dan mewujudkan keinginannya. Hail!

.

.

Gloria Atlantica,

.

Gema Mawardi

Musim Hujan

Thursday, February 1st, 2007

monas tinggal separuh pucuk

rumah-rumah tepi kali tinggal

jejeran semrawut antena tipi

ahoooooooooy… musim hujan datang lagi

.

seperti lebaran, tahun baru dan BBM yang pasti naik

banjir begitu pula, rutin menyambangi kita

.

selamat datang banjir,

selamat tidur, jakarta.